[caption id="attachment_185" align="aligncenter" width="640"]
[caption id="attachment_186" align="aligncenter" width="628"]
Namun, Nur Alam juga menyatakan telah memutuskan mencalonkan diri kembali untuk dipilih lagi sebagai Gubernur Sultra periode berikutnya. Keputusan yang diambil itu disebutnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pasangannya adalah Saleh Lasata pula. Mereka tetap menggunakan akronim Nusa. Pemilihan Gubenur Sultra 2013-2018 akan digelar 4 November 2012.
Suasana halal bi halal di Jakarta lebih nyaman, lebih berkilau, dan elite karena digelar di Ballroom Utama Gran Melia, hotel berbintang enam, di daerah Kuningan. Sekitar 700 warga asal Sultra di Jakarta dan sekitarnya tampak menikmati suasana silaturahim tersebut. Hadir juga mantan Rektor Universitas Haluoleo Mahmud Hamundu. “Masih banyak juga undangan tidak hadir, di antaranya mantan Gubernur Ali Mazi SH, Wakil Ketua DPD-RI Laode Ida, anggota DPR Oheo, Umar Arsal”, kata mantan Kepala Kantor Penghubung Pemprov Sultra di Jakarta, Muhammad Zayat Kaimuddin yang telah menempati posnya yang baru sebagai Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana (Ortala) Sekretariat Kantor Gubernur Sultra.
La Ode Djeni Hasmar mengungkapkan kritikan kalangan tertentu terkait pelaksanaan halal bi halal saat menyampaikan sambutannya. Menurut Ketua Kerukunan Masyarakat Sulawesi Tenggara Jakarta tersebut, mereka menuduh acara tersebut sarat rekayasa politik. Padahal, acara halal bi halal sebagai forum silaturahim telah menjadi tradisi masyarakat asal Sultra di Jakarta sejak mendiang Ir H Alala menjabat Gubernur Sultra.
Gubernur Nur Alam kemudian minta tokoh pemekaran tersebut tidak risau dengan prasangka buruk seperti itu. “Kitab suci mengajarkan, orang berprasangka buruk belum tentu lebih baik dari kita”, ujarnya. Pandangan Nur Alam terebut merujuk firman Allah dalam Al Qur’an, surah Al Hujurat.
Selanjutnya ia berkata, “Saya bersama Pak Saleh Lasata pada kesempatan ini ingin berpamitan kepada semua masyarakat Sultra di Jakarta dan sekitarnya. Tak terasa kini sudah tiba di penghujung masa pengabdian kami melaksanakan amanah rakyat Sultra. Amanah ini hanya titipan sementara, tidak ada yang abadi di dunia ini”.
Ia mengemukakan, kemajuan yang dicapai selama masa bakti itu merupakan hasil kerja keras seluruh masyarakat Sultra. “Kalau ada kekurangan, maka sayalah dan Pak Saleh Lasata yang harus menerimanya sebagai pertanggungjawaban kami kepada Allah Swt di hari kemudian kelak”.
Sebagaimana isi pidato halal bi halal di berbagai tempat sebelumnya, pembangunan sumber daya manusia yang bertumpu pada program pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis serta pembangunan pedesaan melalui penyediaan dana segar berupa block grant merupakan tema sentral uraian gubernur di depan masyarakat Sultra yang mnghadiri acara halal bi halal di Hotel Gran Melia, 9 September 2012.
Menurut Gubernur Nur Alam, berbagai peningkatan ekonomi secara makro terkonfirmasi dengan baik. Angka kemiskinan, misalnya, jika semula tercatat 22 persen, maka kini tinggal 13 persen. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi saat ini mencapai 10,10 persen dari 7,1 persen. Dengan demikian, Sultra masuk dalam lima besar provinsi di Indonesia tertinggi pertumbuhan ekonominya.
Indikator empiris juga dikatakan terkonfirmasi dengan baik. Semisal pembelian kendaraan bermotor roda dua dan roda empat oleh masyarakat Sultra meningkat 60 persen setiap tahun. Kebutuhan semen pun cenderung meningkat sekitar 60 persen setahun. Indikator ini menunjukkan peningkatan kemakmuran dan kualitas hidup masyarakat.
Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) incumbent Nur Alam terkesan masih kuat untuk dapat memenangi pemilihan Gubernur Sultra yang akan digelar sekitar awal November 2012. Kurang lebih 20.000 massa pendukung dengan berkendaraan roda dua dan roda empat, Kamis (30 Agustus 2012) mengantar dan mengawal Nur Alam bersama Brigjen (Purn) H Saleh Lasata ke kantor
Komisi Pemilihan Umum Daerah guna mendaftarkan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur 2013-2018.
Sebelum ke kantor KPU pasangan Nur Alam dan Saleh Lasata dengan akronim Nusa, menghadiri deklarasi yang digelar di pelataran komplek arena MTQ Nasional XXI Tahun 2007 di Kota Kendari. Deklarasi itu dilaksanakan 18 partai koalisi sebagai pengusung Nusa, disaksikan
Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional/Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Ketua DPP Zulkifli Hasan yang juga Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu II, serta perwakilan partai-partai anggota koalisi.
Dalam suasana gegap gempita itu hadir pula kader-kader partai koalisi yang sedang menduduki jabatan politik seperti Bupati Wakatobi Hugua (Ketua DPD PDIP Sultra), Bupati Bombana Tafdil (Ketua DPD PAN Bombana), Walikota Kendari (Ketua DPD PAN Kota Kendari), Bupati Konsel Imran (mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sultra), Bupati Buton Utara Ridwan Zakariah (Ketua DPD PAN Buton Utara), Bupati Butoon Umar Samiun (Ketua DPD PAN Kabupaten Buton).
Koalisi pengusung Nusa terdiri atas 8 partai yang memiliki kursi di DPRD Sultra, yaitu PAN (7 kursi), Partai Demokrat (7), Partai Keadilan Sejahtera (5), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (2), PBB (2), PKB (2), Gerindra (1), PKPI (1). Anggota koalisi lainnya meliputi 11 partai non-kursi di DPRD Sultra dengan total 14,9 persen dari 45 kursi di DPRD Sultra. Tanpa koalisi pun Nusa sebetulnya sudah lolos sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur karena partai pengusung utama, PAN telah mencapai 15 persen dari 45 kursi di DPRD Sultra. Nur Alam adalah Ketua DPW PAN Sultra.
Alasan Nur Alam menggandeng banyak partai menuju “Sultra 01” adalah dalam rangka membangun sinergi dan kebersamaan di antara elite lokal dan nasional untuk membangun Sultra. Dikatakan oleh Nur Alam, untuk membangun daerah tidak cukup hanya dengan kader-kader partai tertentu tetapi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Figur Nur Alam (45), terbukti masih memiliki daya tarik yang kuat. Lapangan terbuka komplek MTQ XXI 2007 segera menjadi lautan biru putih begitu Nur Alam bersama Menko Hatta Radjasa menaiki panggung deklarasi. Yel-yel ‘lanjutkan’ terus membahana untuk menjawab teriakan, Nusa!
Tokoh ini juga pernah membuat Kota Kendari lumpuh total ketika melakukan kampanye penutup pada pilkada yang mengantarkannya menjadi Gubernur Sultra periode sekarang ini (2008-2013). Kampanye dalam bentuk rapat umum (waktu itu) digelar di lapangan Benu-Benua. Lautan manusia yang memadati lapangan tersebut memaksa warga kota yang lain harus berjalan kaki karena angkutan umum parktis lumpuh, tidak bisa bergerak sampai kampanye tersebut selesai menjelang magrib.
Alhasil, pilkada tersebut berpihak pada Nur Alam bersama pasangannya Saleh Lasata. Mereka mengalahkan Gubernur (incumbent) Ali Mazi SH yang berpasangan dengan Abdul Samad (Azimad). Pilgub 2007 diikuti empat pasangan. Adapun pilgub 2012 ini besar kemungkinan hanya diikutiu tiga pasangan. Dua pasangan yang lain adalah Buhari Matta/Amirul Tamim dan Ridwan/Chaerul Saleh. Buhari/Amril diusung PPP dan beberapa partai lain. Sedangkan Ridwan/Chaerul didukung Partai Golkar.
Mantan Gubernur Sultra (2003-2008) Ali Mazi juga terlihat berupaya untuk ikut pilgub lagi tahun ini. Namun, boleh jadi dia terganjal kendaraan politik yang telah terbagi habis ke ketiga pasangan tadi.
Soal siapa bakal pemenang dalam pilkada Gubernur Sultra 2012 ini, hanya Allah Swt yang tahu. Manusia hanya bisa melihat indikator dan gejala aspirasi yang bergerak dinamis. Indikator itu seperti dikatakan Hatta Radjasa ketika bericara atas nama partai koalisi pengusung Nusa adalah, “Kita dukung Nusa karena mereka terbukti berhasil membangun Sultra. Pertumbuhan ekonomi Sultra pada tahun 2012 ini, misalnya, mencapai di atas 10 persen. Jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 6 persen lebih. Alasan lain: Mereka jujur, adil, dan mencintai rakyat yang mereka pimpin”.